RERE, SELAMAT ULANG TAHUN !

Rere, sahabat dan saudariku terkasih. Tidak kucari dan tidak kutemukan. Tiba-tiba duduk diam di sebelah kiriku saat sesi kerohanian MOS SMA. Tidak kukenal dan tidak pernah kulihat. Hanya kupandang sebentar, hhmm sepertinya dia susah didekati. Tidak menyapaku dan hanya diam memandang apa yang ada didepanya. Waktu itu berjalan 1 jam dan tidak ada percakapan apapun. Dari gedung utara sekolah, aku berjalan ke gedung selatan dan Rere berjalan ke gedung barat. Kami terpisah dan aku tidak peduli lagi dengannya. Kami bertemu lagi beberapa hari setelahnya. Mau tidak mau akan selalu bertemu karena aku sekelas dengannya.

Di awal kelas 10, aku dan beberapa teman selalu mengganti teman sebangku. Memilah mana yang cocok dan tidak cocok (cukup jahat untuk diakui, tetapi satu tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi anak perempuan berumur 15 tahun). Aku lupa bagaimana detailnya, setelah merasa tidak cocok dengan beberapa teman, akhirnya aku duduk sebangku dengan Rere. Berkenalan, berbasa-basi, bertanya-tanya, menceritakan hal-hal sederhana, menceritakan hal-hal random. Ya Tuhan, aku merasa cocok dan nyaman duduk sebangku dengannya. Hampir jam pulang sekolah aku berkata: “Re aku besok duduk lagi sama kamu ya.” “Boleh Li.”

. . . . .


Aku ISTJ, Rere INFP. Aku koleris, Rere sanguin. Aku blak-blakan, Rere menjaga ucapannya. Aku serius, Rere santai. Aku teroganisir, Rere fleksibel. Aku ingat segala sesuatu, Rere pelupa. Aku berani berkonflik, Rere cinta damai. Aku memperhitungkan orang yang berbuat kesalahan, Rere berbelas kasihan. Aku berkawan dengan angka, Rere berkawan dengan warna.

Aku dan Rere sangat berbeda. Kami tidak cocok berteman. Ketika aku ke berjalan barat, Rere berjalan ke timur. Ketika aku tertidur, Rere terjaga. Bagi Rere gunung lebih menakjubkan, tetapi aku merasa laut lebih layak untuk dikagumi. Rere lebih suka bermain dengan air, aku lebih suka bermain dengan api. Aku selalu membawa pisau kecil di saku bajuku, Rere selalu membawa permen gulali di saku bajunya.

Pertemanan ini tidak mudah. Ada waktu kita saling mengasihani, ada waktu kita saling mengutuki. Sama-sama ingin dimengerti dan memendam kekecewaan. Saling mendukung dan menguatkan, kemudian saling membuang wajah satu sama lain. Hari ini foto bersama, esoknya tidak saling menyapa. Suatu malam saling menyampaikan keluh kesah dan menangis bersama, tak lama kemudian saling tidak berkabar. Ada saat ingin diperhatikan, namun saling tidak ada disitu.

. . . . .


Kalau bukan karena anugerah Allah, kita pasti saling bermusuhan dan menjatuhkan. Benar kata mereka: “semakin dekat relasi, semakin banyak muncul pertengkaran.” Ada masa dimana aku sama sekali tidak bisa mengerti Rere dan sangat serius mempermasalahkan hal itu. Ada masa dimana aku berpikir untuk tidak mau berteman lagi dengan Rere. Ada masa dimana aku mempertanyakan banyak hal tentang Rere. Namun, masa-masa itu sudah usai. Akhirnya, aku menyadari kalau aku belum terlalu mengenalnya walaupun sudah lama berteman. Aku menyadari bahwa yang sedang berjuang untuk hidup baik bukanlah aku seorang.

Aku bersyukur pertemanan ini saling membangun dan menolong untuk bertumbuh. Persahabatan yang terbangun dalam Kristus. Re, kamu wanita yang luar biasa. Kamu bertaruh untuk banyak hal. Ada beban-beban yang kamu tangisi sepanjang malammu. Ada banyak hal yang sedang kamu perjuangkan. Aku selalu berdoa: kamu bisa mengakhiri itu semua dengan kemenangan. Aku berada disini menjadi saksi hidupmu, melihat dan bersyukur bahwa ada banyak hal yang sudah kamu menangkan. Aku melihatmu makin kokoh dan kuat. Aku bersyukur melihat langit-langit kelammu berubah menjadi lembayung senja yang menenangkan. Terimakasih karena aku boleh mendengar cerita-ceritamu. Terimakasih karena sudah bertahan sampai saat ini.

. . . . .


Re, aku sangat bersyukur mengenalmu. Aku bersyukur kamu ada di dalam perjalanan hidupku. Darimu aku belajar apa itu “penerimaan dan empati.” Suatu pelajaran hidup yang berarti untuk kubawa selama sisa hidupku. Kehadiranmu banyak merubah hidupku. Saat orang lain membayar ratusan ribu untuk sebuah seminar pembentukan watak. Tuhan mengirimmu padaku, untuk menjadi tempat aku berlatih mengelola watak dan belajar memahami keadaan orang. Kamu hadir menjadi sahabat dan saudara yang membangun hidupku. Terimakasih telah bertahan menjadi sahabat yang baik bagiku.

Re, hiduplah lebih lama dan lebih hebat dariku. Jangan terlalu kecewa dengan dirimu, karena hal baik tentang dirimu lebih banyak daripada yang tidak. Tetaplah hidup dengan segala remukmu. Kamu layak untuk menerima hal-hal yang baik dalam hidupmu. Genggam tangan-Nya dalam langkahmu. Teduhkan hati dan pikiranmu pada pelukan-Nya. Jangan menyerah untuk bertumbuh dan menjadi makin baik.

. . . . .


SELAMAT ULANG TAHUN REREW. SELAMAT BERUSIA 24 TAHUN.

Rew, ingat kamu itu prewwwtty dan kiyowo. Tidak ada yang lebih imut dan menawan selain dirimu yaaaa. Doaku untukmu:

  • Kamu selalu ingat bahwa kamu dikasihi dan dijagai oleh Allah
  • Makin besar kasihmu pada Allah dan orang-orang disekitarmu
  • Kiranya kamu selalu bangun tidur dengan perasaan sukacita dan damai sejahtera
  • Apapun yang sedang kamu pergumulkan dapat ditemukan jawabannya
  • Apa yang runtuh dalam hidupmu dapat terbangun kembali, lebih kokoh dan lebih menawan
  • Kamu berani untuk mengambil keputusan-keputusan yang sudah kamu tahu jawabannya
  • Kiranya makin lembut hatimu dan tenang jiwamu
  • Tahun ini kamu mengakhiri status pekerjaan: mahasiswa

Rerew, kasihku padamu sangat terbatas, tetapi kasih Allah padamu sangat melimpah. Aku tidak sanggup berjanji untuk selalu bisa berada di dekatmu, tetapi Allah selalu ada di setiap langkah dan musim hidupmu. Aku sering gagal dalam memahamimu, tetapi Allah tidak pernah gagal untuk memahami keruwetan dan keluh kesahmu.

Saat ini kamu sedang berlayar dengan perahu kecilmu di tengah samudera. Terkadang berlayar dengan arus yang tenang, terkadang berlayar di tengah ombak yang mengamuk. Rew, tenanglah kamu tidak akan tenggelam. Kamu adalah penumpang VIP di perahu kecil itu, Tuhan Yesus adalah nahkodanya. Kamu akan selamat sampai di tempat tujuan.

. . . . .

Akhir kata: Aku berharap suatu saat kamu dapat bertemu dengan Vernon. Memang sangat sulit berjodoh dengannya, but never zero right? 


Yang sangat mengasihimu,

Lia 💖



Komentar

Postingan Populer